• facebook
  • instagram
  • youtube

Museum Konferensi Asia-Afrika

VirtualTour KAA
Sejarah Singkat

Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18 – 24 April 1955 merupakan peristiwa sangat bersejarah dalam politik luar negeri Indonesia dan peristiwa besar bagi bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi hanya 10 tahun setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Dalam waktu yang singkat, bangsa Indonesia telah berani mengusulkan dan bersedia menjadi tuan rumah bagi konferensi bertaraf internasional. Yang paling penting ialah bahwa konferensi itu berakhir dengan sukses besar, baik dalam mempersatukan sikap dan menyusun pedoman kerja sama di antara bangsa-bangsa Asia Afrika maupun dalam ikut serta membantu terciptanya ketertiban dan perdamaian dunia. Konferensi ini melahirkan Dasasila Bandung yang kemudian menjadi pedoman bangsa-bangsa terjajah di dunia dalam perjuangan memperoleh kemerdekaannya yang kemudian menjadi prinsip dasar dalam upaya memajukan perdamaian dan kerja sama dunia. Kesuksesan konferensi ini tidak hanya tampak pada masa itu, tetapi juga, dan yang lebih penting, terlihat pada masa sesudahnya, karena jiwa dan semangat Konferensi Asia Afrika menjadi salah satu faktor penting yang menentukan jalannya sejarah dunia.

Sesungguhnya jiwa dan semangat Konferensi Asia Afrika dapat menjadi pegangan, modal dasar, dan motivasi, baik bagi aktivitas politik (luar negeri) negara kita, maupun bagi Negara-negara Asia Afrika pada umumnya. Konferensi tersebut selain meningkatkan volume kerja sama antarbangsa-bangsa Asia dan Afrika sehingga peranan dan pengaruh mereka dalam percaturan internasional meningkat dan disegani, juga menanamkan kesadaran bagi generasi mendatang bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa Asia Afrika untuk lebih berperan dan berprestasi.

Dalam rangka membina dan mencapai tujuan tersebut di atas, adalah penting dan tepat jika Konferensi Asia Afrika beserta peristiwa, masalah, dan pengaruh yang mengitarinya diabadikan dalam sebuah museum di tempat konferensi itu berlangsung, yaitu di Gedung Merdeka yang berlokasi di Kota Bandung, kota yang dipandang sebagai ibu kota dan sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa Asia Afrika.

Gagasan

Sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (1978-1988), Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M. seringkali bertemu muka dan berdialog dengan para pemimpin negara dan bangsa Asia Afrika. Dalam kesempatan-kesempatan tersebut, beliau sering mendapat pertanyaan dari mereka tentang Gedung Merdeka dan Kota Bandung tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika. Berulang kali pembicaraan tersebut diakhiri oleh pernyataan keinginan mereka untuk dapat mengunjungi Kota Bandung dan Gedung Merdeka.

Terilhami oleh kehendak untuk mengabadikan Konferensi Asia Afrika 1955 yang merupakan tonggak terbesar keberhasilan politik luar negeri Indonesia, ketika jiwa, semangat, dan pengaruhnya menyebar ke seluruh dunia terutama bumi Asia Afrika dan Negara-negara Nonblok, serta terdorong oleh keinginan sejumlah pemimpin Asia Afrika untuk mengunjungi Kota Bandung, maka lahirlah gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M. untuk mendirikan Museum Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka, Bandung. Gagasan tersebut dilontarkan dalam forum rapat Panitia Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika tahun 1980 yang dihadiri antara lain oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Haryati Soebadio sebagai wakil dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Gagasan tersebut mendapat sambutan baik terutama dari Presiden Republik Indonesia Soeharto. Sejak itu, salah satu aktivitas Panitia Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika adalah mewujudkan gagasan tersebut.

Fasilitas

A. Ruang Pameran Tetap

Museum Konferensi Asia-Afrika memiliki ruang pameran tetap yang memamerkan sejumlah koleksi berupa benda-benda tiga gita dimensi dan foto-foto dokumenter peristiwa Pertemuan tugu, Konferensi Kolomco, Konferensi Bogor, dan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Selain itu dipamerkan juga foto-foto mengenai :
– Peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya Konferensi Asia-Afrika
– Dampak Konferensi Asia-Afrika bagi dunia Internasional
– Gedung Merdeka dari masa ke masa
– Profile negara-negara peserta Konferensi Asia-Afrika yang dimuat dalam multimedia.

Diorama Pembukaan Konferensi Asia-Afrika 1955
Dalam rangka menyambut kunjungan Delegasi Konferensi Tingkat Tinggi X Gerakan Nonblok tahun 1992, saat Indonesia terpilih sebagai tempat Konferensi tersebut dan menjadi ketua Gerakan Nonblok, dibuatlah diorama yang menggambarkan situasi pembukaan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.

B. Perpustakaan

Untuk menunjang kegiatan Museum Konferensi Asia-Afrika, pada 1985 Abdullah Kamil (pada waktu itu Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di London) memprakarsai dibuatnya sebuah perpustakaan. Perpustakaan ini memiliki sejumlah buku mengenai sejarah, sosial, politik, dan budaya negara-negara Asia-Afrika, dan negara-negara lainnya; dokumen-dokumen mengenai Konferensi Asia-Afrika dan konferensi lanjutannya; serta majalah dan surat kabar yang bersumber dari sumbangan/hibah dan pembelian.

C. Audio Visual

Bersamaan dengan berdirinya perpustakaan, disiapkan pula ruang audiovisual pada 1985. Ruang tersebut juga diprakarsai oleh Abdullah Kamil.
Ruangan ini menjadi sarana untuk penayangan film-film dokumenter mengenai kondisi dunia hingga tahun 1950-an, Konferensi Asia-Afrika dan konferensi lanjutannya, serta film-film mengenai kebudayaan dari negara-negara Asia dan Afrika.

D. Riset

Museum Konferensi Asia-Afrika meningkatkan berbagai studi mengenai Asia-Afrika dan masalah luar negeri lainnya serta memfasilitasi penelitian dalam dan luar negeri yang dilakukan oleh para peneliti dan mahasiswa.

Lokasi

Menghargai nilai sejarahnya, Museum Konferensi Asia Afrika berlokasi di Gedung Merdeka yang terletak di
Jalan Asia Afrika Nomor 65 Bandung 40111 – Jawa Barat
Telp. 022 – 4233564 / 4238031
Fax. 022 – 4238031

VirtualTour KAA